Selasa, 10 Mei 2016

MENGGAPAI MA'RIFATULLAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam aspek ilmu tasawuf terdapat maqamat maqamat atau tingkatan tingkatan didalamnya, maqamat adalah tingkatan atau tahapan dimana  kaum sufi melakukannya sebagai cara mereka untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, salah satu maqamatnya adalah Ma’rifah. Maqamat ma’rifah adalah maqamat atau tingkatan tertinggi proses sufisme dalam aspek tasawuf Akhlaki. Menurut Ibrahim Basyumi, Ma’rifah adalah pencapaian tertinggi dan sebagai hasil akhir dari segala pemberian setelah melakukan mujahadah dan Riyadhah, dan dapat dicapai ketika telah terpenuhinya hati dengan cahaya Allah.
Dalam mencapai maqamat ma’rifah terlebih dahulu para sufi melalui beberapa maqamat, dimulai dari taubat kemudian naik ke level zuhud, Wara’, Ikhlas, Syukur, Sabar, Qonaah, Ridho, Mahabbah, dan yang terakhir adalah Ma’rifah. Sedangkan dalam tasawuf sunni masih ada tingkatan Khulu, Wahdatul Wujud dan Insan kamil. Tetapi yang 3 terakhir adalah maqamat yang dilarang menurut ulama syariat.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.      Apa yang dimaksud dengan ma’rifah ?
2.      Bagaimana Proses menggapai maqamat Ma’rifah ?
3.      Siapa tokoh-tokoh yang mengembangkan Ma’rifah ?
4.      Bagaimana Pandangan Al-Qur’an dan Hadits mengenai ma’rifah ?

C.     TUJUAN
Tujuan penyusunan makalah ini, selain sebagai tugas mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf,  juga bertujuan Untuk :
1.      Mengetahui Pengertian Ma’rifah.
2.      Mengetahui Cara sampai pada Maqamat Ma’rifah.
3.      Mengetahui Pandangan Al-Qur’an dan Hadits tentang Ma’rifah.
4.      Menambah Ilmu Pengetahuan tentang Ma’rifah.



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Ma’rifah
SecaraBahasaBerasaldaribahasaarabعرف, يعرف, عرفاYang artinyaadalahmengetahui.Dalamarti lain dapatdiartikan pula Pengetahuan yang tidak menerima keraguan. Sedagngkanmenurutistilahsufi Ma’rifahadalah pengetahuan yang tidak menerima keragua, apabila yang dimaklumi adalah dzat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Jika ditanya, “apa yang disebut ma’rifat Dzat dan apa pula ma’rifat sifat?”. Dijawab, “Ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWTadalah wujud Esa, Tunggal, Dzat dan sesuatu yang maha Agung, mandiri dengan sendiri-Nya dan tidak satupun yang menyerupai-Nya”. Sedangkan Ma’rifat sifat adalah mengetahui sesngguhnya Allah swt Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar,Maha Melihat, dan seluruh sifat-sifat keparipurnaan
kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf, antara lain:
Dr.  Mustafa  Zahri mengemukakan salah satu pandapat Ulama Tasawuf yang mengatakan
اَلْمَعْرِفَةُ جَزْمُ الْقَلْبِ بِوُجُوْدِ الْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتَّصِفًا بِسَائِرِ الْكَمُلَاتِ
Artinya:
“Ma`rifah adalah suatu ketetapan hati (dalam mempercayai kahadirannya) wujud yang wajib  adanya ( Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”
Asy-Syekh  Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kurdiriy mengemukakan pendapat Abu Ath-Thayib A-Samiriy yang mengatakan:
اَلْمَعْرِفَةُ طُلُوْعُ الْحَقِّ وَهُوَ اْلقَلْبُ بِمُوَاصِلَةِ الأَنْوَارِ
Artinya:
“Ma`rifah adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Sufi) dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi.

Kalau ditanya, “Apa rahasia Ma’rifat?” Rahasia dan Ruhnya adalah tauhid. Yaitu jika anda telah menyucikan maha Hidup-Nya, Ilmu, Qudrat,Iradat, Sama’, Bashar, dan Kalam-Nya. Maha Suci dari segala keserupaan dengan sifat-sifat makhluk. Allah, tiada yang menyamainya. Lalu apa tanda-tanda ma’rifat?. Tanda-tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt mewahyukan kepada Nabi Daud a.s, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatku itu?” Daud menjawab, “tidak”. Allah berfirman “Hidupnya kalbu dalam Musyahadah kepada-Ku’.
Tahap atau maqam yang dapat dihasilkan sebagai ma’rifat yang benar yaitu :
1.      Musyahadah (Penyaksian)
2.      Ru’yat (melihat) dengan sir kalbu.
Ia melihat untuk dima’rifati. Karena hakikat ma’rifatada dalam batin orang-orang yang melihat, kemudian Allah swt menghilankan sebagian tirai atau hijab, lantas mereka diperlihatkan nur Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar ma’rifat kepada Allah swt. Hijab Initidak dibukakan seluruhnya, agar si pemirsa-Nya tidak terbakar.

Ma’rifah adalah tingkatan tertinggi dalam maqamat maqamat tasawuf akhlaki. Jalan panjang yang ditempuh oleh para sufi mulai dari mengesampingkan dunia dan lebih focus kepada hal yang baik yaitu beribadah kepada Allah yang dinakan zuhud. Kemudian para sufi masuk ke tingkat selanjutnya yaitu dimana mereka menjada keperwiraan mereka . mereka lebih hati hati dalam melakukan atau mengambil sesuatu yang ada di hadapannya.setelsh itu para sufi melalui maqamat Ikhlas, Syukur, Sabar, Qonaah, Ridho, Mahabbah sebelum akhirnya mereka berada di posisi paling tinggi yaitu ma’rifah.Dari literature yang diberikan Harun Nasution, MA’rifah berarti mengetahui Allah dari dekat, sehimmha hati sanubari dapat melihat Allah.

Maksud dari ma’rifah adalah hakikat ma’rifat yang luhur yang hanya diberikan pada orang orang khusus, sesungguhnya pada umumnya tidak akan diperoleh , dengan tanpa mujahadah atau kesungguhan. Ma’rifatullah hanya dapat diperoleh berdasarkan adat kebiasaan seseorang dalam melakukan pengamalan terhadap Allah. Dan jika bukan karena adat kebiasaan, maka asal muasal ma’rifatulah ini hanya diperoleh karena anugerah semata. Karena ma’rifatullah adalah nur yang dilimpahkan Allah kedalam hati seorang hamba-Nya. Dan dengan nur itu ia dapat melihat rahasia kerajaan Allah dan memandang sifat-sifat kekuasaan Allah.

Karena itu disaat abu Bakar ash-Shidiq RA, ditanya; dengan apa anda mendapatkan ma’rifatullah ?. Beliau menjawab; dengan sesuatu dimana allah menjadikanku dapat ma’fifat dzat-Nya, yang tidak dapat di panca indera, tidak dapat diukur dengan suatu ukuran, dekat dalam kejauhan-Nya, jauh dalam kedekatan-Nya, diatas segala-galanya , tidak dapat di artikan; Di bawahnya terdapat sesuatu, dan berada di depan segala sesuatu., tidak dapat di katakan; di depannya terdapat sesuatu, Dialah Dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Dan tidak dapat dikatakan ; Seperti sesuatu yang berada pada sesuatu yang lain . Maka maha sucilah siapa yang seperti itu. Dan tiada yang dapat seperti itu melainkan Dia-Allah Azza Wa Jalla.
      Di terangkan dalam sebuah hadits, bahwa Allah menciptakan makhluk dalam suatu kegelapan. Kemudian Dia memercikkan sebagian nur-Nya pada mereka. Barang siapa tidak mendapatkannya, dia akan sesat. Pernah dinyatakan kepada Ali bin Abi Thalib Ra.; Apakah anda mendapatkan ma’rifatullah karena nabi Muhammad SAW, atau anda mengenal nabi Muhammad karena Allah Ta’ala ?.
      Beliau menjawab : seandainya saya mendapat ma’rifatullah karena Nabi Muhammad SAW, tentu saya tidak menyembah-Nya, dan tentu Muhammad-lah orang yang paling kuat dalam hatiku daripada Allah Ta’ala. Dan seandainya saya mengenal Muhammad karena Allah, tentu saya tidak butuh pada Rasulullah SAW, akan tetapi Allah memperkenalkan saya pada diri saya sendiri tanpa cara apapun seperti apa yang Dia kehendaki. Dan dia mengutus Muhammad SAW untuk menyampaikan hukuk-hukum Al-Qur’an menjelaskan islam dan iman, menetapkan dasar-dasar keislaman dan meluruskan manusia pada jalan keikhlasan. Maka saya membenarkan apa-apa yang beliau bawa itu.
      Iman Al-Quraisy juga berkata : Ma’rifat dalah sifat bagi orang yang mengenal Allah dengan segala sifat dan nama-Nya, kemudian dia membuktikan dengan segala mu’amalahnya, membersihkan diri dari akhlak yang tercela dan penyakit-penyakitnya. Kemudian ia berlama-lama beribadah dalam berdirinya, dan selalu berdzikir dengan hatinya dalam diamnya. Maka ia mendapatkan  anugerah dari Allah, karena sikapnya yang baikbenar dalam segala tindakannya, melepaskan diri dari segala kemauan nafsunya, dan dalam hatinya tidak terlintas sesuatu yang menyeret kepada selain Allah. Maka, jika oleh sesamanya ia sudah dinilai sebagai orang lain, dan dari bahaya bahaya nafsu sudah mampu mengendalikan, lalu dari tempat tinggal dan perhatian-perhatian duniawi sudah dapat dibersihkan. Sebaliknya secara rahasia hatinya selalu bermunajat kepada Allah dalam setiap kesempatan. Maka jadilah ia seorang yang berbicara tentang pembicaraan-pembicaraan (ilham) dari Allah yang Maha suci dan maha Luhur, tentang rahasia-rahasia-Nya dan keputusan-keputusan-Nya. Maka disebutlah ia Orang yang arif dan sikapnya disebut ma’rifat. Maka sesuai dengan keasingan dirinya, maka sejauh itulah dapat dicapai ma’rifat pada Allah Azza Wajalla.
B.     Proses Menggapai Ma’rifah
Untuk menggapai ma’rifah setiap manusia sudah dibekali akal dan hati sebagai media yang digunakan dalam menggapai tingkatang tersebut. Hati manusia adalah hal yang paling penting dalam proses menuju ma’rifah. Karena hatilah yang menghubungkan jiwa manusia dengan Allah. Akal dan jasad adalah pelaksana dari proses proses kesufian yang di bangun didalam hati. Namun hati manusia yang ini bukan hanya dairtikan sebagai hati atau dalam bahasa inggrisnya “Heart”. Namun hati yang dimaksud mencakup hal yang lebih spesifik yaitu sebagai alat persa dan juga alat untuk berfikir. Bedanya Qalbu dengan akal adalah akal tidak dapat memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang tuhan, sedangkan Qalbu dapat mengetahui hakikat dari segala yang ada, jika dilimpahi cahay Allah, akan mengetahui segala rahasia-rahasia-Nya. Hati (qalbu) yang sudah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkaian dzikir dan wirid yang dilakukan secara istiqomah akan dapat mengetahi rahasia-rahasia Allah.
Jalan yang dilalui para sufi menuju maqamat ma’rifat sangat erat hubungannya dengan konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajali.
a.       Takhalli
Takhalli adalah membersihkan hati dari segala sifat sifat tercela, kotoran, penyakit, dan dosa yang pernah dilakukan. Para sufi memulai perjalanan kesufianya dengan mengetahui dan menyadari apa saja yang telah mereka lakukan sebelumnya tentag sifat sifat tercela dan dosa mereka, sehinnga akan tumbuh kesadaran dan penyesalan akan apa yang telah dilakukan dan akan menumbuhkan semangat untuk menghilangkanya. Untuk menghilangkannya para sufi harus melakukan hal-hal berikut.
1.      Menghayati segala bentuk aqidah dan ibadah
2.      Mengkoreksi perilaku yang telah dilakukan
3.      Riyadhah dan mujahadah
4.      Berupanya menangkal segala kebiasaan buruk
5.      Memcari waktu yang tepat untuk merubah sifat buruk
6.      Memohon pertolongan dari Allah atas godaan setan.
b.      Tahalli
Tahalli adalah menghias diri dengan jalan membiasakan sifat dan sikap serta perbuatan yang baik. Jadi setelah para sufi keluar dari zona buruknya, mereka akan mengisi hari hari merekan dengan sesuatu yang baik dari mulai bangun sampai tidur lagi. Proses ini lebih sulit dari yang pertama. Pada proses ini para sufi mulai mengisi lembaran hidupnya dengan perbuatan yang baik. Setelah proses ini berjalan lancer maka akan menghasilkan insane kamil. Langkah ini dilakukan untuk menyinari hati. Yaitu dengan sifat-sifat ketuhanan seperti taubat, Zuhud, Wara’, Sabar, ridho, tawakka, dan qonaah.
c.       Tajalli
Tajalli adalah terbebaskannya hati seseorang dari tabiryaitu sifat kemanusiaan atau nur yang sebelumnya tersembunyi selain Allah ketika tampakwajah-Nya. Al-Kalabadzi membagi tajalli menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Tajalli Dzat, yaitu Mukasyafah (terbukannya selubung yang menutupi kerahasiaan-Nya)
2.      TAjalli As-sifat adz-dzat, yaitu tampaknya sifat-sifat dzat-Nya sebagai sumber cahaya.
3.      Tajalli Hukmu adz-dzat, yaitu tampaknya hukum-hukum yang berhubungan dengan akhirat dan apa yang ada didalamnya.
Untuk mencapai tajalli diperlukan pendekatan rasa dengan hati (qalbu). Apabila rasa itu sudah sampai pada hatinya, maka dia akan dilimpahi karunia dan rahmat-Nya. Disaat itu hati telah penuh dengan sinar ketuhanan. Maka terangkatlah tabir yang sebelumnya menghalangi dirinya dengan dzat Allah. Ketika taljalli sudah sempurna maka ma’rifah akan diperolehnya.
C.     Tokoh Yang Mengembangkan Ma`rifah
 Dalam literatur Tasawuf dijumpai dua orang tokoh yang mengenalkan paham ma`rifah ini, yaitu Al-Ghazali dan Zun al-Nun al-Misri. Al-Ghazali nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali  lahir pada tahun 1059 M. di Ghazaleh, suatu kota kecil terletak di dekat Tus di Khurasan. Ia  pernah belajar pada Imam Al-Haramain Al-Juwaini. Guru besar di Madrasah Al-Nizamiyah Nisyafur. setelah mempelajari ilmu agama ia mempelajari ilmu teologi, ilmu pengetahua alam, filsafat dan lain-lainnya. akhirnya ia memilih tasawuf sebagai jalan hidupnya. Setelah brtahun-tahun mengembara sebagai Sufi ia kembali ke Tus di tahun 1105 M. dan meninggal di sana pada tahun 1111 M.
Adapun Zun al-Misri berasal dari Naubah, suatu negeri yang terlerak antara Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M. menurut Hamka. beliaulah puncaknya kaum Sufi dalam abad ketiga hijriyah. Beliaulah yang banyak sekali menambahkan jalan untuk munuju kepada Tuhan. yaitu mencintai Tuhan,membenci yang sedikit, menuruti garis perintah yang diturunkan, dan takut terpaling dari jalan yang benar.
Mengenai bukti bahwa kedua tokoh tersebut membawa paham ma`rifah dapat di ikuti  dari pendapat-pendapatnya di bawah ini:
Al-Ghazali mengatakan bahwa ma`rifah adalah:
الإطلاع على أسرار الربوبيّة والعلم بترتب الأمور الإلـهيّة المحيطة بكل الموجودات
Tampak jelas rahsia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan mengenai susunan urusan ketuhanan yang mencakup segala yang ada.
Seterusnya Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang mempunyai ma`rifah tentang Tuhan, yaitu Arif, tidak akan mengatakan Yaa Allah (( يا الله  atau Yaa Rabb ( ياربّ) karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada berada dibelakang tabir. orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya itu.
tetapi bagi Al-Ghazali ma`rifah urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah, karena mahabbah timbul dari ma`rifah.
D.     Ayat – ayat Alqur’an dan Hadits tentang Ma’rifat


           
           
           









DAFTAR PUSTAKA
·        Syata, As Sayid Abu BAkar Ibn Muhammad, 1997, Menapak Jejak Kaum Sufi,Surabaya:Dunia Ilmu
·        Hakiem, Muhammad Lukman, 1995, Raudhah Taman Jiwa Kaum Sufi, Surabaya:Risalah Gusti