BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam aspek ilmu tasawuf terdapat maqamat maqamat atau tingkatan tingkatan
didalamnya, maqamat adalah tingkatan atau tahapan dimana kaum sufi melakukannya sebagai cara mereka untuk
mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, salah satu maqamatnya adalah Ma’rifah. Maqamat
ma’rifah adalah maqamat atau tingkatan tertinggi proses sufisme dalam aspek tasawuf
Akhlaki. Menurut Ibrahim Basyumi, Ma’rifah adalah pencapaian tertinggi dan sebagai
hasil akhir dari segala pemberian setelah melakukan mujahadah dan Riyadhah, dan
dapat dicapai ketika telah terpenuhinya hati dengan cahaya Allah.
Dalam mencapai maqamat ma’rifah terlebih dahulu para sufi melalui beberapa
maqamat, dimulai dari taubat kemudian naik ke level zuhud, Wara’, Ikhlas,
Syukur, Sabar, Qonaah, Ridho, Mahabbah, dan yang terakhir adalah Ma’rifah. Sedangkan
dalam tasawuf sunni masih ada tingkatan Khulu, Wahdatul Wujud dan Insan kamil. Tetapi
yang 3 terakhir adalah maqamat yang dilarang menurut ulama syariat.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian
diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.
Apa yang dimaksud dengan ma’rifah ?
2.
Bagaimana Proses menggapai maqamat Ma’rifah
?
3.
Siapa tokoh-tokoh yang mengembangkan
Ma’rifah ?
4.
Bagaimana Pandangan Al-Qur’an dan Hadits
mengenai ma’rifah ?
C.
TUJUAN
Tujuan penyusunan
makalah ini, selain sebagai tugas mata kuliah Akhlaq dan Tasawuf, juga bertujuan Untuk :
1.
Mengetahui Pengertian Ma’rifah.
2.
Mengetahui Cara sampai pada Maqamat Ma’rifah.
3.
Mengetahui Pandangan Al-Qur’an dan Hadits
tentang Ma’rifah.
4.
Menambah Ilmu Pengetahuan tentang Ma’rifah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Ma’rifah
SecaraBahasaBerasaldaribahasaarabعرف, يعرف, عرفاYang artinyaadalahmengetahui.Dalamarti lain
dapatdiartikan pula Pengetahuan yang tidak menerima keraguan.
Sedagngkanmenurutistilahsufi Ma’rifahadalah pengetahuan yang tidak menerima
keragua, apabila yang dimaklumi adalah dzat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Jika
ditanya, “apa yang disebut ma’rifat Dzat dan apa pula ma’rifat sifat?”.
Dijawab, “Ma’rifat Dzat adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWTadalah
wujud Esa, Tunggal, Dzat dan sesuatu yang maha Agung, mandiri dengan
sendiri-Nya dan tidak satupun yang menyerupai-Nya”. Sedangkan Ma’rifat sifat
adalah mengetahui sesngguhnya Allah swt Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha
Kuasa, Maha Mendengar,Maha Melihat, dan seluruh sifat-sifat keparipurnaan
kemudian
istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawuf, antara lain:
Dr.
Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pandapat Ulama Tasawuf yang
mengatakan
اَلْمَعْرِفَةُ
جَزْمُ الْقَلْبِ بِوُجُوْدِ الْوَاجِبِ الْمَوْجُوْدِ مُتَّصِفًا بِسَائِرِ
الْكَمُلَاتِ
Artinya:
“Ma`rifah
adalah suatu ketetapan hati (dalam mempercayai kahadirannya) wujud yang
wajib adanya ( Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”
Asy-Syekh
Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kurdiriy mengemukakan pendapat Abu Ath-Thayib
A-Samiriy yang mengatakan:
اَلْمَعْرِفَةُ طُلُوْعُ الْحَقِّ وَهُوَ اْلقَلْبُ
بِمُوَاصِلَةِ الأَنْوَارِ
Artinya:
“Ma`rifah
adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Sufi) dalam keadaan hatinya selalu
berhubungan dengan Nur Ilahi.
Kalau ditanya, “Apa rahasia Ma’rifat?” Rahasia dan Ruhnya adalah tauhid.
Yaitu jika anda telah menyucikan maha Hidup-Nya, Ilmu, Qudrat,Iradat, Sama’,
Bashar, dan Kalam-Nya. Maha Suci dari segala keserupaan dengan sifat-sifat
makhluk. Allah, tiada yang menyamainya. Lalu apa tanda-tanda ma’rifat?.
Tanda-tandanya adalah hidupnya kalbu bersama Allah swt. Allah swt mewahyukan
kepada Nabi Daud a.s, “Mengertikah engkau, apakah ma’rifatku itu?” Daud
menjawab, “tidak”. Allah berfirman “Hidupnya kalbu dalam Musyahadah kepada-Ku’.
Tahap atau maqam yang dapat dihasilkan sebagai ma’rifat yang benar yaitu
:
1.
Musyahadah
(Penyaksian)
2.
Ru’yat
(melihat) dengan sir kalbu.
Ia melihat untuk dima’rifati. Karena
hakikat ma’rifatada dalam batin orang-orang yang melihat, kemudian Allah swt
menghilankan sebagian tirai atau hijab, lantas mereka diperlihatkan nur
Dzat-Nya dan sifat-sifat-Nya dari balik hijab itu agar ma’rifat kepada Allah
swt. Hijab Initidak dibukakan seluruhnya, agar si pemirsa-Nya tidak terbakar.
Ma’rifah adalah tingkatan tertinggi dalam maqamat maqamat tasawuf
akhlaki. Jalan panjang yang ditempuh oleh para sufi mulai dari mengesampingkan
dunia dan lebih focus kepada hal yang baik yaitu beribadah kepada Allah yang
dinakan zuhud. Kemudian para sufi masuk ke tingkat selanjutnya yaitu dimana
mereka menjada keperwiraan mereka . mereka lebih hati hati dalam melakukan atau
mengambil sesuatu yang ada di hadapannya.setelsh itu para sufi melalui maqamat Ikhlas, Syukur,
Sabar, Qonaah, Ridho, Mahabbah sebelum akhirnya mereka berada di posisi paling
tinggi yaitu ma’rifah.Dari literature yang diberikan Harun Nasution, MA’rifah
berarti mengetahui Allah dari dekat, sehimmha hati sanubari dapat melihat
Allah.
Maksud dari
ma’rifah adalah hakikat ma’rifat yang luhur yang hanya diberikan pada orang
orang khusus, sesungguhnya pada umumnya tidak akan diperoleh , dengan tanpa
mujahadah atau kesungguhan. Ma’rifatullah hanya dapat diperoleh berdasarkan
adat kebiasaan seseorang dalam melakukan pengamalan terhadap Allah. Dan jika
bukan karena adat kebiasaan, maka asal muasal ma’rifatulah ini hanya diperoleh
karena anugerah semata. Karena ma’rifatullah adalah nur yang dilimpahkan Allah
kedalam hati seorang hamba-Nya. Dan dengan nur itu ia dapat melihat rahasia
kerajaan Allah dan memandang sifat-sifat kekuasaan Allah.
Karena itu disaat abu Bakar
ash-Shidiq RA, ditanya; dengan apa anda mendapatkan ma’rifatullah ?. Beliau
menjawab; dengan sesuatu dimana allah menjadikanku dapat ma’fifat dzat-Nya,
yang tidak dapat di panca indera, tidak dapat diukur dengan suatu ukuran, dekat
dalam kejauhan-Nya, jauh dalam kedekatan-Nya, diatas segala-galanya , tidak
dapat di artikan; Di bawahnya terdapat sesuatu, dan berada di depan segala
sesuatu., tidak dapat di katakan; di depannya terdapat sesuatu, Dialah Dzat
yang maha kuasa atas segala sesuatu, tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Dan tidak
dapat dikatakan ; Seperti sesuatu yang berada pada sesuatu yang lain . Maka
maha sucilah siapa yang seperti itu. Dan tiada yang dapat seperti itu melainkan
Dia-Allah Azza Wa Jalla.
Di terangkan dalam sebuah hadits, bahwa
Allah menciptakan makhluk dalam suatu kegelapan. Kemudian Dia memercikkan
sebagian nur-Nya pada mereka. Barang siapa tidak mendapatkannya, dia akan
sesat. Pernah dinyatakan kepada Ali bin Abi Thalib Ra.; Apakah anda mendapatkan
ma’rifatullah karena nabi Muhammad SAW, atau anda mengenal nabi Muhammad karena
Allah Ta’ala ?.
Beliau menjawab : seandainya saya mendapat
ma’rifatullah karena Nabi Muhammad SAW, tentu saya tidak menyembah-Nya, dan
tentu Muhammad-lah orang yang paling kuat dalam hatiku daripada Allah Ta’ala.
Dan seandainya saya mengenal Muhammad karena Allah, tentu saya tidak butuh pada
Rasulullah SAW, akan tetapi Allah memperkenalkan saya pada diri saya sendiri
tanpa cara apapun seperti apa yang Dia kehendaki. Dan dia mengutus Muhammad SAW
untuk menyampaikan hukuk-hukum Al-Qur’an menjelaskan islam dan iman, menetapkan
dasar-dasar keislaman dan meluruskan manusia pada jalan keikhlasan. Maka saya
membenarkan apa-apa yang beliau bawa itu.
Iman Al-Quraisy juga berkata : Ma’rifat
dalah sifat bagi orang yang mengenal Allah dengan segala sifat dan nama-Nya,
kemudian dia membuktikan dengan segala mu’amalahnya, membersihkan diri dari
akhlak yang tercela dan penyakit-penyakitnya. Kemudian ia berlama-lama
beribadah dalam berdirinya, dan selalu berdzikir dengan hatinya dalam diamnya.
Maka ia mendapatkan anugerah dari Allah,
karena sikapnya yang baikbenar dalam segala tindakannya, melepaskan diri dari
segala kemauan nafsunya, dan dalam hatinya tidak terlintas sesuatu yang
menyeret kepada selain Allah. Maka, jika oleh sesamanya ia sudah dinilai
sebagai orang lain, dan dari bahaya bahaya nafsu sudah mampu mengendalikan,
lalu dari tempat tinggal dan perhatian-perhatian duniawi sudah dapat
dibersihkan. Sebaliknya secara rahasia hatinya selalu bermunajat kepada Allah
dalam setiap kesempatan. Maka jadilah ia seorang yang berbicara tentang
pembicaraan-pembicaraan (ilham) dari Allah yang Maha suci dan maha Luhur,
tentang rahasia-rahasia-Nya dan keputusan-keputusan-Nya. Maka disebutlah ia
Orang yang arif dan sikapnya disebut ma’rifat. Maka sesuai dengan keasingan
dirinya, maka sejauh itulah dapat dicapai ma’rifat pada Allah Azza Wajalla.
B.
Proses Menggapai Ma’rifah
Untuk menggapai ma’rifah setiap manusia sudah dibekali akal dan
hati sebagai media yang digunakan dalam menggapai tingkatang tersebut. Hati
manusia adalah hal yang paling penting dalam proses menuju ma’rifah. Karena
hatilah yang menghubungkan jiwa manusia dengan Allah. Akal dan jasad adalah
pelaksana dari proses proses kesufian yang di bangun didalam hati. Namun hati
manusia yang ini bukan hanya dairtikan sebagai hati atau dalam bahasa
inggrisnya “Heart”. Namun hati yang dimaksud mencakup hal yang lebih spesifik
yaitu sebagai alat persa dan juga alat untuk berfikir. Bedanya Qalbu dengan
akal adalah akal tidak dapat memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang
tuhan, sedangkan Qalbu dapat mengetahui hakikat dari segala yang ada, jika
dilimpahi cahay Allah, akan mengetahui segala rahasia-rahasia-Nya. Hati (qalbu)
yang sudah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkaian dzikir
dan wirid yang dilakukan secara istiqomah akan dapat mengetahi rahasia-rahasia
Allah.
Jalan yang dilalui para sufi menuju maqamat ma’rifat sangat erat
hubungannya dengan konsep Takhalli, Tahalli, dan Tajali.
a.
Takhalli
Takhalli adalah membersihkan hati dari segala sifat sifat tercela,
kotoran, penyakit, dan dosa yang pernah dilakukan. Para sufi memulai perjalanan
kesufianya dengan mengetahui dan menyadari apa saja yang telah mereka lakukan
sebelumnya tentag sifat sifat tercela dan dosa mereka, sehinnga akan tumbuh
kesadaran dan penyesalan akan apa yang telah dilakukan dan akan menumbuhkan
semangat untuk menghilangkanya. Untuk menghilangkannya para sufi harus
melakukan hal-hal berikut.
1.
Menghayati segala bentuk aqidah dan
ibadah
2.
Mengkoreksi perilaku yang telah
dilakukan
3.
Riyadhah dan mujahadah
4.
Berupanya menangkal segala kebiasaan
buruk
5.
Memcari waktu yang tepat untuk
merubah sifat buruk
6.
Memohon pertolongan dari Allah atas
godaan setan.
b.
Tahalli
Tahalli adalah menghias diri dengan jalan membiasakan sifat dan
sikap serta perbuatan yang baik. Jadi setelah para sufi keluar dari zona
buruknya, mereka akan mengisi hari hari merekan dengan sesuatu yang baik dari
mulai bangun sampai tidur lagi. Proses ini lebih sulit dari yang pertama. Pada
proses ini para sufi mulai mengisi lembaran hidupnya dengan perbuatan yang
baik. Setelah proses ini berjalan lancer maka akan menghasilkan insane kamil. Langkah
ini dilakukan untuk menyinari hati. Yaitu dengan sifat-sifat ketuhanan seperti
taubat, Zuhud, Wara’, Sabar, ridho, tawakka, dan qonaah.
c.
Tajalli
Tajalli adalah terbebaskannya hati seseorang dari tabiryaitu sifat
kemanusiaan atau nur yang sebelumnya tersembunyi selain Allah ketika tampakwajah-Nya.
Al-Kalabadzi membagi tajalli menjadi tiga macam, yaitu:
1.
Tajalli Dzat, yaitu Mukasyafah
(terbukannya selubung yang menutupi kerahasiaan-Nya)
2.
TAjalli As-sifat adz-dzat, yaitu
tampaknya sifat-sifat dzat-Nya sebagai sumber cahaya.
3.
Tajalli Hukmu adz-dzat, yaitu
tampaknya hukum-hukum yang berhubungan dengan akhirat dan apa yang ada
didalamnya.
Untuk mencapai tajalli diperlukan pendekatan rasa dengan hati
(qalbu). Apabila rasa itu sudah sampai pada hatinya, maka dia akan dilimpahi
karunia dan rahmat-Nya. Disaat itu hati telah penuh dengan sinar ketuhanan.
Maka terangkatlah tabir yang sebelumnya menghalangi dirinya dengan dzat Allah.
Ketika taljalli sudah sempurna maka ma’rifah akan diperolehnya.
C.
Tokoh Yang Mengembangkan
Ma`rifah
Dalam literatur Tasawuf dijumpai dua orang tokoh
yang mengenalkan paham ma`rifah ini, yaitu Al-Ghazali dan Zun al-Nun al-Misri.
Al-Ghazali nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali lahir pada tahun
1059 M. di Ghazaleh, suatu kota kecil terletak di dekat Tus di Khurasan.
Ia pernah belajar pada Imam Al-Haramain Al-Juwaini. Guru besar di Madrasah
Al-Nizamiyah Nisyafur. setelah mempelajari ilmu agama ia mempelajari ilmu
teologi, ilmu pengetahua alam, filsafat dan lain-lainnya. akhirnya ia memilih
tasawuf sebagai jalan hidupnya. Setelah brtahun-tahun mengembara sebagai Sufi
ia kembali ke Tus di tahun 1105 M. dan meninggal di sana pada tahun 1111 M.
Adapun Zun al-Misri berasal dari Naubah, suatu negeri
yang terlerak antara Sudan dan Mesir. Tahun kelahirannya tidak banyak
diketahui, yang diketahui hanya tahun wafatnya, yaitu 860 M. menurut Hamka. beliaulah
puncaknya kaum Sufi dalam abad ketiga hijriyah. Beliaulah yang banyak sekali
menambahkan jalan untuk munuju kepada Tuhan. yaitu mencintai Tuhan,membenci
yang sedikit, menuruti garis perintah yang diturunkan, dan takut terpaling dari
jalan yang benar.
Mengenai bukti bahwa kedua tokoh tersebut membawa paham
ma`rifah dapat di ikuti dari pendapat-pendapatnya di bawah ini:
Al-Ghazali
mengatakan bahwa ma`rifah adalah:
الإطلاع على أسرار الربوبيّة والعلم بترتب الأمور الإلـهيّة المحيطة
بكل الموجودات
Tampak
jelas rahsia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan mengenai susunan urusan
ketuhanan yang mencakup segala yang ada.
Seterusnya Al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang
mempunyai ma`rifah tentang Tuhan, yaitu Arif, tidak akan mengatakan Yaa Allah (( يا الله atau Yaa Rabb ( ياربّ) karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan
bahwa Tuhan ada berada dibelakang tabir. orang yang duduk berhadapan dengan
temannya tidak akan memanggil temannya itu.
tetapi bagi Al-Ghazali
ma`rifah urutannya terlebih dahulu daripada mahabbah, karena mahabbah timbul
dari ma`rifah.
D.
Ayat – ayat Alqur’an dan Hadits
tentang Ma’rifat
DAFTAR PUSTAKA
·
Syata, As Sayid Abu BAkar Ibn
Muhammad, 1997, Menapak Jejak Kaum Sufi,Surabaya:Dunia Ilmu
·
Hakiem, Muhammad Lukman, 1995, Raudhah
Taman Jiwa Kaum Sufi, Surabaya:Risalah Gusti